Sabtu, 06 April 2013

Saya Jadi Merenung Karena Eyang Subur

Perenungan tidak melulu hadir karena sesuatu yang hebatsering kali kita berefleksi atau berkaca hanya karena kita merasa 'aneh', bukan? -April Tupai


Ada yang buat gue sedih hari ini. Bekerja sebagai reporter lifestyle, bukan berarti isinya melulu soal senang-senang. Gue di desk ini udah mau satu setengah tahun dan gue nggak pernah megang gosip, jadi gue nggak tahu menahu soal gosip.
Dan gue nggak paham ketika tiba-tiba nama Eyang Subur mulai ramai dimana-mana. Tiba-tiba dia nge-hits, dan entah kenapa itu dibesar-besarkan oleh media. Gue nggak menyalahkan media, karena memang ada bagian besar masyarakat yang jauh lebih senang denger berita-berita macam gitu ketimbang respon terhadap sebuah prestasi orang. Yaudahlah, sangat nggak fair kalau gue menyalahkan media. (Lebih nggak fair kalau gue nyalahin masyarakat, karena yang kaya gitu juga cuma sebagian). Tapi, yang gue sedih ketika berita si Eyang itu dikait-kaitkan sama Srimulat, sampe banyak orang jadi ikutan benci sama Srimulat. Oke, gue cukup berterimakasih dengan Eyang Subur, dia bikin negara gue makin berwarna dengan absurditas, tapi gue bener-bener nggak paham ketika orang-orang benci Srimulat karena mereka dibilang 'pasukannya Eyang Subur'.
Mungkin mereka pernah dekat, atau mungkin mereka pernah dapat bantuan, atau apalah yang bertebaran di media. Tapi terlepas dari itu kenapa judge orang-orang jadi begitu negatif ke Srimulat?
Mereka ini sempet ngeredup, dan lagi coba untuk tampil kembali melalui film, dan cobalah untuk menghargai lebih dulu.
Miris. Iya, gue miris banget ketika orang-orang cuma bisa komentar, cuma bisa ngejudge yang nggak-nggak, tanpa bisa menghargai terlebih dahulu.
Gue nggak ngerti kenapa masyarakat gampang banget dukung atau respon terhadap hal yang negatif, ketimbang menyusuri lebih lanjut apa yang sebenarnya.
Okelah, naif banget kalau ngomongin kebenaran, semua udah terlalu ambigu. Tapi cobalah untuk bisa melihat sesuatu dengan lebih luas lagi, nggak cuma fokus di satu titik, sedangkan kita nggak tahu titik lainnya.
Biar gimana Srimulat dulu pernah dicintai, perjuangan mereka nggak gampang, dari tampil dari panggung ke panggung; dari pertunjukkan yang kecil. Nah, ketika mereka mulai muncul lagi, kenapa justru dikait-kaitkan dengan hal yang sangat nggak ada hubungannya dengan tampilnya mereka sekarang - Eyang Subur
Cobalah melihatnya dengan melihat karyanya ketimbang keterlibatan personal atau kedekatan seseorang terhadap apapun. Ya, tapi emang susah. Orang-orang lebih nyium lo bakal bau bangke kalau lo deket sama bangke. Orang-orang nggak peduli jadinya sama apa yang udah lo bikin. Miris. Iya, sekali lagi gue merasa miris. Ya, mungkin ini jadi pelajaran buat kita semua untuk selalu hati-hati, hati-hati menilai, hati-hati untuk tidak sembarang tuduh, dan hati-hati berdekatan dengan orang, kita nggak pernah tahu bumerang itu datangnya dari mana, dan kapan, bisa jadi kita terserang justru di saat kita bener-bener nggak siap. Atau yang paling lazim, terserang ketika kita sedang berusaha menghasilkan sesuatu yang baik. (Well, nggak perlu didebatin dululah kerelatifan kata 'baik' di atas)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar